LINTAS BERITA NASIONAL || BREBES
Memasuki bulan suci Ramadhan, Pajar Saragih mengeluarkan pernyataan tajam terkait kesiapan Pemerintah Daerah dalam menjamin kekhusyukan ibadah masyarakat. Meski ucapan selamat dan baliho pejabat mulai menjamur di sudut kota, realita di lapangan menunjukkan beban rakyat yang semakin berat.
Pajar Saragih menegaskan bahwa esensi Ramadhan sebagai bulan penuh berkah jangan sampai tercederai oleh ketidakmampuan pemerintah mengendalikan harga bahan pokok.
"Kita menyambut Ramadhan dengan hati yang bersih, namun pemerintah juga harus memastikan 'tangan' mereka bersih dari kelalaian. Jangan biarkan rakyat kesulitan mencari pangan murah hanya untuk sekadar berbuka dan sahur," tegas Pajar.
Stabilitas Pangan: Mendesak Pemda untuk melakukan operasi pasar yang masif, bukan sekadar gimik politik di depan kamera.
Infrastruktur Ibadah & Mobilitas: Menyoroti perbaikan jalan dan penerangan menuju tempat ibadah yang masih banyak terabaikan, yang berisiko mengganggu kenyamanan warga saat tarawih.
Empati Kebijakan: Meminta pemerintah tidak hanya sibuk dengan agenda seremonial "Buka Bersama" pejabat, sementara bansos untuk warga rentan masih salah sasaran.
Di tengah kritik pedas tersebut, Pajar Saragih tetap mengedepankan sisi kemanusiaan dan spiritualitas sebagai pengingat bagi diri sendiri dan sesama.
"Ramadhan adalah momentum untuk memerdekakan hati dari khilaf. Secara pribadi, saya, Pajar Saragih dan Keluarga, dengan segala kerendahan hati memohon maaf lahir dan batin atas segala tutur kata maupun sikap yang kurang berkenan. Kritik yang saya sampaikan adalah bentuk kepedulian, karena ibadah yang tenang hanya bisa terwujud dalam lingkungan yang adil dan sejahtera."
Selamat menunaikan Ibadah Puasa Ramadhan. Semoga Allah SWT memberikan kita kekuatan dan keistiqamahan untuk tetap kritis dan peduli hingga meraih kemenangan di hari yang fitri.
Team Redaksi
