LINTAS BERITA NASIONAL|| ACEH SINGKIL
Peta birokrasi Desa Sintuban Makmur, Kecamatan Danau Paris, resmi luluh lantak. Bukan karena bencana alam, melainkan akibat "tsunami moral" yang dipicu oleh pemimpinnya sendiri. Pada Senin (9/3), gelombang pengunduran diri massal perangkat desa pecah, meninggalkan kursi-kursi pemerintahan yang kosong sebagai bentuk mosi tidak percaya paling ekstrem terhadap oknum Kepala Desa berinisial IPS.
Aksi "bedol desa" ini adalah puncak muak para aparat terhadap dugaan skandal perzinaan IPS yang dikabarkan telah menghamili seorang gadis. Bagi mereka, bertahan di bawah komando IPS bukan lagi soal pekerjaan, melainkan soal menjaga sisa-sisa harga diri yang nyaris habis.
Salah satu perangkat desa yang menanggalkan jabatannya, berinisial S, meluapkan kemarahannya dengan nada getir. Baginya, integritas tidak bisa dikompromikan dengan syahwat pemimpin yang tak terkendali.
> "Kami punya anak, istri, dan keluarga. Malu kami sudah sampai ke ubun-ubun! Bagaimana mungkin kami bisa menatap muka warga sementara pemimpin kami dituduh melakukan perbuatan sehina itu? Mengabdi pada oknum yang mengotori sumpah jabatan di bawah kitab suci adalah penghinaan bagi kami sebagai manusia," tegas S tanpa tedeng aling-aling.
Kritik pedas juga menghantam dari tokoh masyarakat setempat, DB. Ia menilai perilaku IPS bukan sekadar urusan pribadi, melainkan serangan jantung bagi norma dan nilai-nilai syariat di tanah Aceh.
"Ini bukan cuma soal asusila, ini adalah pengkhianatan telanjang terhadap mandat rakyat! Seorang Kades seharusnya menjadi kompas moral, tapi IPS justru menjadi sumber aib yang membusukkan nama baik desa. Dia telah meruntuhkan wibawa Sintuban Makmur hingga ke titik nadir," ujar DB dengan geram.
Lumpuhnya pelayanan publik di Sintuban Makmur adalah sinyal darurat bagi Pj Bupati Aceh Singkil. Masyarakat kini menuntut tindakan tegas tanpa kompromi: Copot IPS atau biarkan desa ini mati suri.
Hingga berita ini diturunkan, IPS—sang aktor utama di balik kekacauan ini—masih memilih bungkam seribu bahasa. Sikap pengecut ini dinilai publik sebagai konfirmasi bisu atas ketidakmampuannya mempertanggungjawabkan perilaku amoral yang kini menghancurkan masa depan birokrasi desanya sendiri.
Publisher: Redaksi PRIMA
