Ticker

6/recent/ticker-posts

Sambut 2026, Bobi Irawan: Jurnalis Harus "Setajam Silet" Kawal Program Pemerintah Menuju Indonesia Emas

 


JAKARTA – Menjelang pergantian tahun menuju 2026, tokoh publik Bobi Irawan melontarkan pesan krusial bagi arah pembangunan nasional. Ia menegaskan bahwa ambisi besar mewujudkan Indonesia Emas mustahil tercapai tanpa pengawasan media yang agresif serta birokrasi yang tetap berjalan di jalur yang benar.

Dalam keterangan resminya, Bobi menyerukan pentingnya sinkronisasi kebijakan antara Pemerintah Pusat dan Daerah agar tidak terjadi ketimpangan dalam eksekusi di lapangan.

Bobi Irawan menyoroti bahwa tahun 2026 harus menjadi momentum pembuktian bagi pemerintah. Ia memperingatkan seluruh jajaran birokrasi agar tidak terjebak dalam seremoni administratif semata, melainkan fokus pada hasil nyata yang dirasakan masyarakat.

"Tetap lurus. Jangan ada belokan-belokan kepentingan yang merugikan rakyat. Program pemerintah sudah banyak, sekarang tinggal bagaimana pelaksanaannya di lapangan. Kita butuh aksi nyata, bukan sekadar narasi," tegas Bobi.

Secara spesifik, Bobi menekankan bahwa keberanian media adalah tolok ukur kemajuan sebuah bangsa. Ia memacu para insan pers untuk menjalankan fungsi kontrol sosial secara ekstrem demi menjaga integritas pembangunan.

Menurutnya, jurnalisme tidak boleh hanya menjadi penyampai informasi, tetapi harus menjadi instrumen pengawas yang kritis.

Fungsi Membedah: Mengurai kebijakan yang tumpang tindih.

Fungsi Kontrol: Memastikan anggaran rakyat tepat sasaran. Fungsi Pengawasan: Menutup celah penyimpangan di segala bidang.

"Selamat Tahun Baru 2026. Bangsa ini hanya akan jaya jika jurnalisnya berani. Jurnalis harus setajam silet; mampu membedah dan mengawasi tanpa pandang bulu. Hanya dengan kontrol yang tajam, negeri ini bisa terbangun dengan sehat," lanjutnya.

Menutup pernyataannya, Bobi berharap tahun 2026 menjadi titik balik kolaborasi yang sehat antara pemerintah yang berintegritas dan pers yang kritis. Sinergi ini diyakini akan menjadi fondasi utama dalam menjaga ritme pembangunan nasional agar tetap berada pada relnya menuju target jangka panjang bangsa.

Tim Redaksi Prima