LINTAS BERITA NASIONAL || JAKARTA
Ketua Presidium Forum Pers Independent Indonesia (FPII), Dra. Kasihhati, meledak dalam kemarahan menanggapi penikaman biadab terhadap Faisal Thayeb, jurnalis yang dikenal sebagai "kerikil di sepatu" para penguasa korup di Banggai Laut. Kasihhati menuding peristiwa ini bukan kriminalitas jalanan biasa, melainkan operasi senyap pembungkaman pers yang terorganisir.
FPII membongkar adanya indikasi pertemuan maut di sebuah vila mewah di Banggai Laut sesaat sebelum eksekusi dilakukan. Pertemuan itu diduga kuat menjadi dapur rencana untuk menghabisi Faisal Thayeb yang selama ini vokal membongkar borok kebijakan di daerah tersebut.
"Narasi utang-piutang itu sampah! Itu adalah skenario usang yang sengaja diproduksi untuk melindungi 'Gembong' di balik layar. Kami punya data ada pertemuan tertutup di vila sebelum kejadian. Siapa yang hadir? Siapa yang mendanai? Polisi jangan pura-pura buta!" tegas Kasihhati dengan nada berapi-api (14/1/2026).
Kasihhati menyoroti betapa beraninya pelaku menusuk korban berkali-kali di depan publik dan keluarganya. Hal ini menunjukkan pelaku merasa memiliki "Bekingan Baja" sehingga tidak takut pada hukum.
Pemerintah Daerah Jangan Cuci Tangan: FPII menantang keberanian Pemda Banggai Laut untuk bersuara. Bungkamnya otoritas daerah memperkuat dugaan adanya keterlibatan atau setidaknya restu terhadap aksi premanisme ini.
Hukum Tajam ke Bawah? "Darah jurnalis sudah tumpah di aspal. Jika polisi hanya menangkap pelaku lapangan (eksekutor) tapi membiarkan aktor intelektualnya bebas menghirup udara segar, maka matilah keadilan di negeri ini!" kecam Kasihhati.
Mengingat adanya indikasi hubungan mesra antara pelaku utama dengan oknum pejabat berpengaruh di daerah tersebut, FPII mendesak Kapolri untuk segera turun tangan.
"Kami tidak percaya kasus ini bisa tuntas secara fair jika hanya ditangani di level lokal yang sarat kepentingan. Ada oknum pejabat yang 'kegerahan' dengan pemberitaan korban. Jangan sampai Polri justru menjadi tameng pelindung bagi penjahat kerah putih," tambahnya.
Kasihhati memperingatkan seluruh pihak yang mencoba bermain-main dengan kasus ini bahwa FPII akan terus mengawal hingga ke akar-akarnya.
"Kepada para pengecut yang menggunakan tangan preman untuk membungkam jurnalis: Anda tidak bisa membunuh kebenaran! Darah Faisal Thayeb adalah api bagi kami. TIDAK ADA TOLERANSI, TIDAK ADA DAMAI BAGI PENIKAM KEBEBASAN PERS!" tutupnya dengan tegas.
Team Redaksi PRIMA
